Langkah-langkah
menanamkan sikap wirausaha kepada anak sejak dini.
1. Latihlah anak untuk berkomunikasi dengan
baik
Berwirausaha
adalah untuk melatih anak berkomunikasi dengan baik. Salah satu alasan mengapa
orang membeli produk kita adalah karena
produk kita bagus dan berkualitas, kedua karena kita menjualkan produk ke
perusahaan yang terpercaya. Tetapi, pengaruh yang paling besar mengapa
orang-orang membeli produk kita adalah karena kita kenal dengan orang tersebut,
atau kita akrab dengan orang tersebut. Misalkan, kita menjual makanan, enak,
produknya bagus dan terpercaya, tetapi orang 60% membeli produk kita karena
kita kenal dengan konsumen kita, karena kita orangnya baik. Jadi, karena 60%
penentu keberhasilan orang membeli produk kita, karena kenal. Maka dari itu
kita harus mengajarkan anak berkomunikasi kepada orang lain dengan baik.
Bagaimana mengajarkan anak menjadi pribadi yang kuat, menjadi pribadi yang
tangguh, pribadi yang menyenangkan, dan pribadi yang positif.
2. Disiplin
Dalam
hal ini, disiplin bukan hanya karena tentang disiplin waktu. Selain disiplin
waktu, Disiplin disini juga dimaksudkan untuk anak agar mau melakukan apa yang
seharusnya dilakukan walaupun saat itu anak tidak mau. Ada beberapa pilihan,
misalnya oh anak saat ini jadwalnya harus melakukan ini, melakukan itu, tetapi
anak sedang tidak mau. Jika anak sudah terlatih disiplin, anak pasti akan
melakukan, sekalipun anak sedang dalam keadaan malas, anak pasti akan melakukan
hal yang sudah kegiatannya.
3. Berikan konsep-konsep positif tentang uang
Saya
sering mendengar kata-kata seperti ini “jangan jadi orang kaya, nanti masuk
surganya terakhir !!.., karna apa.,?., nanti dihisabnya lama, dihitungnya
lama..,” nah, kata-kata seperti itu adalah konsep-negatif tentang uang. Jadi,
kita harus tanamkan sikap-sikap positif tentang uang, bahwa uang itu adalah
sebuah ide, dan ide itu bisa menghasilkan uang. Beritahu anak bahwa uang jika
ditangan orang yang baik maka akan berubah menjadi kebaikan. Dan hanya orang
yang kuat yang bisa menolong orang yang lemah. Jika anak sudah besar katakan :
“nak, nanti kalau ekonomimu sudah kuat, kamu bisa bantu teman-temanmu yang
lemah secara ekonomi. Konsep-konsep seperti inilah yang harus kita tanamkan
untuk anak agar anak punya cara pandang yang positif tetang uang.
4. Bekali mental anak
Ketika
anak memasuki usia 9-15 tahun, anak sudah bisa membanding-mbandingkan
teman-temannya, anak bisa membandingkan bahwa ada temannya lebih pintar, ada
temannya yang lebh kaya, dll. Nah, pada tahap ini orang tua perlu menanamkan
sikap mental positif kepada anak. Bekal mental adalah persepsi positif terhadap
diri anak. Jangan sampai anak beranggapan bahwa dirinya “oh.. aku ini orangnya
lebih bodoh dari temanku, oh aku ini orangnya lebih miskin dari temanku..”.
persepsi yang demikian harus dihilangkan dari pikiran anak. Karena pada
dasarnya semua anak adalah cerdas
5. Tentukan passion atau minat anak
Disini
kita latihkan pada kegemaran anak. Ketika anak kurang pandai dalam hal
pelajaran, kita bisa arahkan ke hal yang menjadi minat anak. Misalnya,
menggambar, bermain musik, bernyanyi, kerajinan tangan, dll.
6. Cari tahu formula kemenangannya
Jadi
ketika anak kurang mampu dalam hal pelajaran dan kita arahkan ke minant anak
yang lain, maka itu akan menjadi formula kemenangan anak. Dan yang pasti bukan
dalam hal pelajaran. Misalnya anak lebih kreatif dari temannya jadi persepsi
positifnya harus tetap kita jaga. Seperti anak bisa percaya pada dirinya bahwa
dia anak yang kreatif, dia unggul dalam hal kerajinan misalnya.
7. Memulai dengan permainan
Untuk
anak umur 9 tahun keatas, orang tua bisa ajarkan anak untuk bermain monopoli,
melalui permainan monopoli orang tua sambil menanamkan pembelajaran kepada
anak. Bermain jualan-jualan (dalam Bahasa Jawa disebut “pasaran”) juga dapat menstimulasi jiwa entrepreneur anak.
8. Bersiap
Bersiap
ini adalah untuk mempersiapkan keberhasilannya didunia nyata. Ketika anak sudah
mulai berpenghasilan dari uang saku orang tuanya, ajarkan anak untuk menabung
untuk bekalnya kelak.
9. Latihan keterampilan
Ajarkan
latihan keterampilan atau keunggulan yang dimiliki anak, misalnya kerajinan
tangan, musik, membuat pernak pernik, atau kegiatan apa saja yang sekiranya
mempunyai harga jual.
10. Kenali karakter anak.
Disini
adalah untuk mengetahui gaya belajar anak. Apakah anak belajar secara visual,
auditori ataupun kinestetik. Dengan kita mengetahui salah satu karakter anak
tersebut akan sangat mudah cara untuk memahamkan anak dalam mempelajari
wirausaha apakah dengan gaya visual, auditori atau kinestetik.
11. Merancang prioritas untuk anak
Merancang
prioritas kepada anak adalah dengan melihat ketika anak ingin membeli sesuatu,
misalnya saja membeli tas baru. Kemudian kita tanya kepada anak, “kamu ingin membeli tas ini memang
benar-benar butuh atau hanya sekedar ingin punya?, terus yang kamu pengen itu
bisa dibeli sekarang apa nanti.?, dan yang pengen kamu beli ini untuk siapa?
Diri sendiri, masyarakat, teman, keluarga atau siapa.?,”. Jadi ajarkan anak
untuk disiplin finansial, mau menunda kesenangannya, dan paham apa yang harus
diprioritaskan.
12. Kenalkan segmen pasar
Ketika
anak masih kecil kita bisa tanya seperti ini “nak, kamu mau jualan apa?”, atau ketika anak sudah besar usia 9
tahun ke atas, kita bisa beri pertanyaan kepada anak yang lebih spesifik
misalnya “nak, ada tidak temanmu yang
butuh apa, yang sekiranya kita bisa bantu dia ? nanti kita bisa bantu dia
dengan jualan itu.?.” Jadi, kita mengajarkan anak supaya tau segmen
pasarnya seperti apa, segmen pasarnya siapa. Hal ini menegaskan kepada anak
bahwa kita berjualan produk atau jasa itu ada tujuannya. Tujuannya adalah
membantu mereka supaya masalah mereka bisa teratasi.
13. Kembangkan ide anak
Terkadang
kita tahu bahwa ide anak itu tinggi. Idenya itu sangat tidak terpikirkan oleh
kita. Anak sangat kreatif menciptakan sesuatu hal yang belum ada. Misalnya anak
ingin membentuk donat pesawat atau buku yang ada lampunya. Nah tugas orang tua
adalah memfasilitasi. Kalau sekarang bisa lakukan, ayo kita coba bikin
sekarang. Ayo kita coba jualan ini. Lalu kita bisa tanyakan kepada anak. “nak,
apa yang menjadikan jualanmu beda dengan yang lain.?,” misalnya, dengan menjual
donat pesawat, kita akan berjualan donat dengan bentuk pesawat, begitu pula
dengan buku lampu. Jadi memang seperti itu produk yang ditawarkan kepada orang
lain dan berbeda dengan yang lain. Lalu jika anak yang mempunyai banyak ide,
kan ada anak yang mempunyai ide banyak sekali, lalu bagaimana caranya
melaksanakan ide-ide tersebut?. Caranya adalah kita bisa tuntun anak untuk
fokus dengan salah satu ide terlebih dahulu. Kalau salah satu ide sudah berhasil,
bisa dilanjutkan ide yang lan.
Sekian begitulah
tips dari saya dalam langkah-langkah menanamkan sikap wirausaha kepada anak
sejak dini.
Dikutip dari
hasil seminar orangtualogy comunity
