Senin, 07 Agustus 2017

Langkah-langkah menanamkan sikap wirausaha kepada anak sejak dini.

Langkah-langkah menanamkan sikap wirausaha kepada anak sejak dini.
1.       Latihlah anak untuk berkomunikasi dengan baik
Berwirausaha adalah untuk melatih anak berkomunikasi dengan baik. Salah satu alasan mengapa orang  membeli produk kita adalah karena produk kita bagus dan berkualitas, kedua karena kita menjualkan produk ke perusahaan yang terpercaya. Tetapi, pengaruh yang paling besar mengapa orang-orang membeli produk kita adalah karena kita kenal dengan orang tersebut, atau kita akrab dengan orang tersebut. Misalkan, kita menjual makanan, enak, produknya bagus dan terpercaya, tetapi orang 60% membeli produk kita karena kita kenal dengan konsumen kita, karena kita orangnya baik. Jadi, karena 60% penentu keberhasilan orang membeli produk kita, karena kenal. Maka dari itu kita harus mengajarkan anak berkomunikasi kepada orang lain dengan baik. Bagaimana mengajarkan anak menjadi pribadi yang kuat, menjadi pribadi yang tangguh, pribadi yang menyenangkan, dan pribadi yang positif.

2.       Disiplin
Dalam hal ini, disiplin bukan hanya karena tentang disiplin waktu. Selain disiplin waktu, Disiplin disini juga dimaksudkan untuk anak agar mau melakukan apa yang seharusnya dilakukan walaupun saat itu anak tidak mau. Ada beberapa pilihan, misalnya oh anak saat ini jadwalnya harus melakukan ini, melakukan itu, tetapi anak sedang tidak mau. Jika anak sudah terlatih disiplin, anak pasti akan melakukan, sekalipun anak sedang dalam keadaan malas, anak pasti akan melakukan hal yang sudah kegiatannya.
3.       Berikan konsep-konsep positif tentang uang
Saya sering mendengar kata-kata seperti ini “jangan jadi orang kaya, nanti masuk surganya terakhir !!.., karna apa.,?., nanti dihisabnya lama, dihitungnya lama..,” nah, kata-kata seperti itu adalah konsep-negatif tentang uang. Jadi, kita harus tanamkan sikap-sikap positif tentang uang, bahwa uang itu adalah sebuah ide, dan ide itu bisa menghasilkan uang. Beritahu anak bahwa uang jika ditangan orang yang baik maka akan berubah menjadi kebaikan. Dan hanya orang yang kuat yang bisa menolong orang yang lemah. Jika anak sudah besar katakan : “nak, nanti kalau ekonomimu sudah kuat, kamu bisa bantu teman-temanmu yang lemah secara ekonomi. Konsep-konsep seperti inilah yang harus kita tanamkan untuk anak agar anak punya cara pandang yang positif tetang uang.
4.       Bekali mental anak
Ketika anak memasuki usia 9-15 tahun, anak sudah bisa membanding-mbandingkan teman-temannya, anak bisa membandingkan bahwa ada temannya lebih pintar, ada temannya yang lebh kaya, dll. Nah, pada tahap ini orang tua perlu menanamkan sikap mental positif kepada anak. Bekal mental adalah persepsi positif terhadap diri anak. Jangan sampai anak beranggapan bahwa dirinya “oh.. aku ini orangnya lebih bodoh dari temanku, oh aku ini orangnya lebih miskin dari temanku..”. persepsi yang demikian harus dihilangkan dari pikiran anak. Karena pada dasarnya semua anak adalah cerdas
5.       Tentukan passion atau minat anak
Disini kita latihkan pada kegemaran anak. Ketika anak kurang pandai dalam hal pelajaran, kita bisa arahkan ke hal yang menjadi minat anak. Misalnya, menggambar, bermain musik, bernyanyi, kerajinan tangan, dll.
6.       Cari tahu formula kemenangannya
Jadi ketika anak kurang mampu dalam hal pelajaran dan kita arahkan ke minant anak yang lain, maka itu akan menjadi formula kemenangan anak. Dan yang pasti bukan dalam hal pelajaran. Misalnya anak lebih kreatif dari temannya jadi persepsi positifnya harus tetap kita jaga. Seperti anak bisa percaya pada dirinya bahwa dia anak yang kreatif, dia unggul dalam hal kerajinan misalnya.
7.       Memulai dengan permainan
Untuk anak umur 9 tahun keatas, orang tua bisa ajarkan anak untuk bermain monopoli, melalui permainan monopoli orang tua sambil menanamkan pembelajaran kepada anak. Bermain jualan-jualan (dalam Bahasa Jawa disebut “pasaran”) juga dapat menstimulasi jiwa entrepreneur anak.
8.       Bersiap
Bersiap ini adalah untuk mempersiapkan keberhasilannya didunia nyata. Ketika anak sudah mulai berpenghasilan dari uang saku orang tuanya, ajarkan anak untuk menabung untuk bekalnya kelak.
9.       Latihan keterampilan
Ajarkan latihan keterampilan atau keunggulan yang dimiliki anak, misalnya kerajinan tangan, musik, membuat pernak pernik, atau kegiatan apa saja yang sekiranya mempunyai harga jual.
10.   Kenali karakter anak.
Disini adalah untuk mengetahui gaya belajar anak. Apakah anak belajar secara visual, auditori ataupun kinestetik. Dengan kita mengetahui salah satu karakter anak tersebut akan sangat mudah cara untuk memahamkan anak dalam mempelajari wirausaha apakah dengan gaya visual, auditori atau kinestetik.
11.   Merancang prioritas untuk anak
Merancang prioritas kepada anak adalah dengan melihat ketika anak ingin membeli sesuatu, misalnya saja membeli tas baru. Kemudian kita tanya kepada anak, “kamu ingin membeli tas ini memang benar-benar butuh atau hanya sekedar ingin punya?, terus yang kamu pengen itu bisa dibeli sekarang apa nanti.?, dan yang pengen kamu beli ini untuk siapa? Diri sendiri, masyarakat, teman, keluarga atau siapa.?,”. Jadi ajarkan anak untuk disiplin finansial, mau menunda kesenangannya, dan paham apa yang harus diprioritaskan.
12.   Kenalkan segmen pasar
Ketika anak masih kecil kita bisa tanya seperti ini “nak, kamu mau jualan apa?”, atau ketika anak sudah besar usia 9 tahun ke atas, kita bisa beri pertanyaan kepada anak yang lebih spesifik misalnya “nak, ada tidak temanmu yang butuh apa, yang sekiranya kita bisa bantu dia ? nanti kita bisa bantu dia dengan jualan itu.?.” Jadi, kita mengajarkan anak supaya tau segmen pasarnya seperti apa, segmen pasarnya siapa. Hal ini menegaskan kepada anak bahwa kita berjualan produk atau jasa itu ada tujuannya. Tujuannya adalah membantu mereka supaya masalah mereka bisa teratasi.
13.   Kembangkan ide anak
Terkadang kita tahu bahwa ide anak itu tinggi. Idenya itu sangat tidak terpikirkan oleh kita. Anak sangat kreatif menciptakan sesuatu hal yang belum ada. Misalnya anak ingin membentuk donat pesawat atau buku yang ada lampunya. Nah tugas orang tua adalah memfasilitasi. Kalau sekarang bisa lakukan, ayo kita coba bikin sekarang. Ayo kita coba jualan ini. Lalu kita bisa tanyakan kepada anak. “nak, apa yang menjadikan jualanmu beda dengan yang lain.?,” misalnya, dengan menjual donat pesawat, kita akan berjualan donat dengan bentuk pesawat, begitu pula dengan buku lampu. Jadi memang seperti itu produk yang ditawarkan kepada orang lain dan berbeda dengan yang lain. Lalu jika anak yang mempunyai banyak ide, kan ada anak yang mempunyai ide banyak sekali, lalu bagaimana caranya melaksanakan ide-ide tersebut?. Caranya adalah kita bisa tuntun anak untuk fokus dengan salah satu ide terlebih dahulu. Kalau salah satu ide sudah berhasil, bisa dilanjutkan ide yang lan.
Sekian begitulah tips dari saya dalam langkah-langkah menanamkan sikap wirausaha kepada anak sejak dini.
Dikutip dari hasil seminar orangtualogy comunity