Minggu, 21 Mei 2017

Stimulasi Fisik Motorik Anak, Berbicara dan Bahasa Anak, Bersosialisasi dan Kemandirian Anak


Bunda, sebagai orang tua, kita wajib untuk menstimulasi buah hati kita dengan berbagai cara. Dengan demikian anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Stimulasi perkembangan ini sangat dibutuhkan untuk anak sebagai bekal ketika akan memasuki usia sekolah. Berikut ini adalah stimulasi fisik motorik anak, berbicara dan bahasa anak, bersosialisasi dan kemandirian anak pada usia 15 sampai 24 bulan atau usia 1.5 tahun - 2 tahun :

       A.    Stimulasi Fisik Motorik Anak Usia 15-24 Bulan
       1. Berdiri dan berjalan.
Seorang bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masa pengasuhan dan pemeliharaan dari orangtua. Untuk anak yang baru belajar berjalan, mungkin inilah hal yang paling menyenangkan, melangkah tanpa rasa takut, dituntun ayah atau ibu, berkeliling rumah atau taman.
Pada usia 18 bulan keatas, orang tua sebaiknya menstimulasi anaknya dengan mengajarkan naik dan turun tangga tanpa bantuan, tetapi tetap harus dalam pengawasan. Anak juga belajar untuk mengembangkan keterampilan motoriknya dengan berdiri, berjalan, melompat dan berlari.
2.      Melalui bermain
Orang tua menstimulasi anak untuk memberikan beberapa mainan yang aman kepada anak. Misalnya anak diminta untuk mengambil mainan, bermain bola, meremas play dough, dll. Dengan bermain anak mampu mengembangkan keterampilan motorik, kecerdasan, inisiatif, imajinasi, kreativitas, dan bakat.
3.      Mengontrol tangan
         Kegiatan ini dapat di terapkan ketika anak belajar untuk makan dan minum sendiri dengan cara belajar memegang sendok dan mengarahkannya kedalam mulut. Atau bisa juga dengan belajar memegang dan melepaskan suatu objek.

B. Stimulasi Berbicara Dan Bahasa Anak Usia 15-24 Bulan
1.      Mengajak Berbicara
Walaupun usia 15 bulan belum lancar berbicara, orang tua tetap harus rajin berkomunikasi dengan anak, karena anak akan mengerti apa yang orang tuanya katakan. Misalnya, Katakan kegiatan-kegiatannya setelah makan, seperti jalan-jalan, dan juga ketika mengatakan jadwal harian anak, orang tua perlu kompromi. Bagaimanapun, orang tua harus fleksibel. Bukan tidak mungkin, ketika ada acara atau kejadian khusus, orang tua harus merubah jadwal anak. Misalnya ketika berlibur keluar kota atau ketika anak sedang sakit. Yang perlu diperhatikan adalah orang tua perlu membuat jadwal agar anak merasa nyaman. Bila anak rewel, orang tua juga yang kewalahan menghadapinya.
Orang tua harus sering berbicara dengan anak, menanyakan pendapat anak, menciptakan suasana yang berwarna-warni, mengarahkan dengan tidak langsung. Misalnya, ketika anak berusaha mengikat tali sepatunya, pujilah, jangan diperlihatkan kesalahan dari mengikat sepatunya. Pada saat ini yang anak pelajari bukanlah mengikat tali dengan benar, tapi bahwa dia dihargai karena mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru.
Anak mulai dapat berbicara dengan benar, pada saat usianya menginjak 18 bulan atau bisa disebut balita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.
2.      Mulai Belajar Bahasa
            Di usia ini, sebaiknya orang tua jangan terlalu sering berusaha memperbaiki anak yang sedang belajar berbicara, karena hal ini akan mengakibatkan anak menjadi penakut atau pemalu.

C. Stimulasi Sosial Dan Kemandirian Anak Usia 15-24 Bulan
a.       Berkomunikasi
Kemampuan berkomunikasi pada anak memang perlu dilatih dengan baik sebagai bekal dalam menjalankan hubungan sosial dan kemandirian. Ketrampilan berkomunikasi bukan sekedar kemampuan berbicara, melainkan mampu menyampaikan dengan baik kepada orang lain sekaligus juga mampu memahami dan memberikan respon atas komunikasi yang dijalin oleh orang lain.
Stimulasi berkomunikasi ini bisa orang tua latih dengan cara meminta anak untuk mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya dengan jelas. Orang tua juga bisa melatih stimulasi berkomunikasi dengan meminta anak untuk menyampaikan apa yang sedang ia rasakan atau menggambarkan perasaanya.
Didalam komunikasi yang baik, tentu ada keselarasan antara dua pihak atau lebih dari orang yang sedang menjalin komunikasi. Disinilah-anak anak dilatih untuk bisa mendengarkan dengan baik ketika ada orang lain yang menyampaikan sesuatu.
b.      Membuat Humor
Jalinan hubungan sosial akan terasa hampa bila sama sekali tidak diselingi humor. Dengan adanya humor seseorang bisa tertawa, atau humor tidak harus membuat tersenyum sehingga melekatkan hubungan dan rasa ringan di hati. Ketika anak usia ini bulan sudah mulai berjalan dan sudah mengenal beberapa benda dan fungsinya, orang tua perlu memberikan stimulus humor pada anak. Misalnya, orang tua meletakkan kaus kaki dikepala, hal ini juga merupakan humor tersendiri bagi sang anak.
Bila anak sudah mengenal beberapa hal yang membuatnya lucu, maka ia akan belajar membuat humor sendiri. Setiap manusia mempunyai perasaan dan kemampuan dalam membuat humor. Dengan demikian, jalinan sosial yang dibangunnya kelak tidak hambar, tetapi berkelanjutan dengan baik.
c.       Menjalin Persahabatan
Orang tua membiarkan anaknya untuk bergaul atau bermain dengan anak lain, jika anak dilarang bermain oleh orang tuanya, akan berakibat pada kemampuan perkembangan sosial ketika anak sudah memasuki ke jenjang sekolah.
Salah satu contoh hal yang paling medasar dalam menjalin persahabatan adalah bisa berbagi dengan orang lain. Bila anak telah memahami dan belajar mengenai stimulasi persahabatan yang diberikan orang tuanya, maka anak akan lebih mudah untuk bersosialisasi serta menjalin persahabatan dengan banyak teman sehingga pergaulan pun akan semakin luas.
d.      Pembiasaan kata maaf
Ini adalah latihan kepada anak untuk terbiasa meminta maaf kepada orang lain apabila kita melakukan tindakan yang tidak sengaja (apalagi sengaja). Sikap ini sangat perlu kita biasakan kepada anak-anak karena tidak jarang kita temui orang-orang yang dengan jelas-jelas melakukan kesalahan kepada orang lain, tetapi sulit baginya untuk bisa meminta maaf. Oleh sebab itu, tidak sedikit orang yang akhirnya menjauhi orang yang tidak bisa meminta maaf tersebut karena dianggapnya angkuh, tinggi hati, atau sombong.
e.       Pembiasaan kata terima kasih
Mengucapkan terima kasih perlu orang tua latihkan kepada anak. Tidak hanya ketika menerima pemberian yang bersifat materi atau bernilai yang besar saja, orang tua juga perlu membiasakan anak dan memberikan contoh agar segera mengucapkan terima kasih kepada orang lain meskipun yang diberikan orang lain itu hal yang kecil atau biasa saja.

Daftar Pustaka
Azzet, Akhmad Muhaimin. 2014 Mengembangkan Kecerdasan Sosial Bagi Anak, Yogyakarta : Katahati.
Dariyo, Agoes. 2011. Psikologi Perkembangan. Bandung : Refika Aditama.
Mansur. 2005. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Mursid. 2015. Belajar dan Pembelajaran PAUD. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mutia, Diana. 2012. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana.
Santi, Danar. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini Antara Teori dan Praktik. Jakarta : Indeks.
Saraswati,  Sylvia. 2009. Aneka Permainan Bayi dan Anak. Yogyakarta : Katahati.

Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Indeks.