
Bunda, sebagai orang tua, kita wajib untuk menstimulasi buah hati kita dengan berbagai cara. Dengan demikian anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Stimulasi perkembangan ini sangat dibutuhkan untuk anak sebagai bekal ketika akan memasuki usia sekolah. Berikut ini adalah stimulasi fisik motorik anak, berbicara dan bahasa anak, bersosialisasi dan kemandirian anak pada usia 15 sampai 24 bulan atau usia 1.5 tahun - 2 tahun :
A.
Stimulasi
Fisik Motorik Anak Usia 15-24 Bulan1. Berdiri dan berjalan.
Seorang
bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masa pengasuhan dan
pemeliharaan dari orangtua. Untuk anak yang baru belajar berjalan, mungkin
inilah hal yang paling menyenangkan, melangkah tanpa rasa takut, dituntun ayah
atau ibu, berkeliling rumah atau taman.
Pada
usia 18 bulan keatas, orang tua sebaiknya menstimulasi anaknya dengan
mengajarkan naik dan turun tangga tanpa bantuan, tetapi tetap harus dalam
pengawasan. Anak juga belajar untuk mengembangkan keterampilan motoriknya
dengan berdiri, berjalan, melompat dan berlari.
2. Melalui
bermain
Orang
tua menstimulasi anak untuk memberikan beberapa mainan yang aman kepada anak.
Misalnya anak diminta untuk mengambil mainan, bermain bola, meremas play dough,
dll. Dengan bermain anak mampu mengembangkan keterampilan motorik, kecerdasan,
inisiatif, imajinasi, kreativitas, dan bakat.
3. Mengontrol
tangan
Kegiatan ini dapat di
terapkan ketika anak belajar untuk makan dan minum sendiri dengan cara belajar
memegang sendok dan mengarahkannya kedalam mulut. Atau bisa juga dengan belajar
memegang dan melepaskan suatu objek.
B. Stimulasi
Berbicara Dan Bahasa Anak Usia 15-24 Bulan
1. Mengajak
Berbicara
Walaupun
usia 15 bulan belum lancar berbicara, orang tua tetap harus rajin berkomunikasi
dengan anak, karena anak akan mengerti apa yang orang tuanya katakan. Misalnya,
Katakan kegiatan-kegiatannya setelah makan, seperti jalan-jalan, dan juga ketika
mengatakan jadwal harian anak, orang tua perlu kompromi. Bagaimanapun, orang
tua harus fleksibel. Bukan tidak mungkin, ketika ada acara atau kejadian
khusus, orang tua harus merubah jadwal anak. Misalnya ketika berlibur keluar
kota atau ketika anak sedang sakit. Yang perlu diperhatikan adalah orang tua
perlu membuat jadwal agar anak merasa nyaman. Bila anak rewel, orang tua juga
yang kewalahan menghadapinya.
Orang
tua harus sering berbicara dengan anak, menanyakan pendapat anak, menciptakan
suasana yang berwarna-warni, mengarahkan dengan tidak langsung. Misalnya,
ketika anak berusaha mengikat tali sepatunya, pujilah, jangan diperlihatkan
kesalahan dari mengikat sepatunya. Pada saat ini yang anak pelajari bukanlah
mengikat tali dengan benar, tapi bahwa dia dihargai karena mempunyai inisiatif
untuk melakukan sesuatu yang baru.
Anak
mulai dapat berbicara dengan benar, pada saat usianya menginjak 18 bulan atau
bisa disebut balita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.
2. Mulai
Belajar Bahasa
Di usia ini, sebaiknya
orang tua jangan terlalu sering berusaha memperbaiki anak yang sedang belajar
berbicara, karena hal ini akan mengakibatkan anak menjadi penakut atau pemalu.
C. Stimulasi
Sosial Dan Kemandirian Anak Usia 15-24 Bulan
a. Berkomunikasi
Kemampuan
berkomunikasi pada anak memang perlu dilatih dengan baik sebagai bekal dalam
menjalankan hubungan sosial dan kemandirian. Ketrampilan berkomunikasi bukan
sekedar kemampuan berbicara, melainkan mampu menyampaikan dengan baik kepada orang
lain sekaligus juga mampu memahami dan memberikan respon atas komunikasi yang
dijalin oleh orang lain.
Stimulasi
berkomunikasi ini bisa orang tua latih dengan cara meminta anak untuk
mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya dengan jelas. Orang
tua juga bisa melatih stimulasi berkomunikasi dengan meminta anak untuk
menyampaikan apa yang sedang ia rasakan atau menggambarkan perasaanya.
Didalam
komunikasi yang baik, tentu ada keselarasan antara dua pihak atau lebih dari
orang yang sedang menjalin komunikasi. Disinilah-anak anak dilatih untuk bisa
mendengarkan dengan baik ketika ada orang lain yang menyampaikan sesuatu.
b. Membuat
Humor
Jalinan
hubungan sosial akan terasa hampa bila sama sekali tidak diselingi humor.
Dengan adanya humor seseorang bisa tertawa, atau humor tidak harus membuat
tersenyum sehingga melekatkan hubungan dan rasa ringan di hati. Ketika anak
usia ini bulan sudah mulai berjalan dan sudah mengenal beberapa benda dan
fungsinya, orang tua perlu memberikan stimulus humor pada anak. Misalnya, orang
tua meletakkan kaus kaki dikepala, hal ini juga merupakan humor tersendiri bagi
sang anak.
Bila
anak sudah mengenal beberapa hal yang membuatnya lucu, maka ia akan belajar
membuat humor sendiri. Setiap manusia mempunyai perasaan dan kemampuan dalam
membuat humor. Dengan demikian, jalinan sosial yang dibangunnya kelak tidak
hambar, tetapi berkelanjutan dengan baik.
c. Menjalin
Persahabatan
Orang
tua membiarkan anaknya untuk bergaul atau bermain dengan anak lain, jika anak
dilarang bermain oleh orang tuanya, akan berakibat pada kemampuan perkembangan
sosial ketika anak sudah memasuki ke jenjang sekolah.
Salah
satu contoh hal yang paling medasar dalam menjalin persahabatan adalah bisa
berbagi dengan orang lain. Bila anak telah memahami dan belajar mengenai
stimulasi persahabatan yang diberikan orang tuanya, maka anak akan lebih mudah
untuk bersosialisasi serta menjalin persahabatan dengan banyak teman sehingga
pergaulan pun akan semakin luas.
d. Pembiasaan
kata maaf
Ini
adalah latihan kepada anak untuk terbiasa meminta maaf kepada orang lain
apabila kita melakukan tindakan yang tidak sengaja (apalagi sengaja). Sikap ini
sangat perlu kita biasakan kepada anak-anak karena tidak jarang kita temui
orang-orang yang dengan jelas-jelas melakukan kesalahan kepada orang lain,
tetapi sulit baginya untuk bisa meminta maaf. Oleh sebab itu, tidak sedikit
orang yang akhirnya menjauhi orang yang tidak bisa meminta maaf tersebut karena
dianggapnya angkuh, tinggi hati, atau sombong.
e. Pembiasaan
kata terima kasih
Mengucapkan terima
kasih perlu orang tua latihkan kepada anak. Tidak hanya ketika menerima
pemberian yang bersifat materi atau bernilai yang besar saja, orang tua juga
perlu membiasakan anak dan memberikan contoh agar segera mengucapkan terima
kasih kepada orang lain meskipun yang diberikan orang lain itu hal yang kecil
atau biasa saja.
Daftar Pustaka
Daftar Pustaka
Azzet, Akhmad Muhaimin. 2014 Mengembangkan Kecerdasan Sosial Bagi Anak, Yogyakarta
: Katahati.
Dariyo,
Agoes. 2011. Psikologi Perkembangan. Bandung : Refika Aditama.
Mansur.
2005. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam
Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Mursid.
2015. Belajar dan Pembelajaran PAUD. Bandung
: Remaja Rosdakarya.
Mutia,
Diana. 2012. Psikologi Bermain Anak Usia
Dini. Jakarta : Kencana.
Santi,
Danar. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini
Antara Teori dan Praktik. Jakarta : Indeks.
Saraswati,
Sylvia. 2009. Aneka Permainan Bayi dan Anak. Yogyakarta : Katahati.
Sujiono,
Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Indeks.